Handicraft Center kok judulnya 'Pondok Dahar Lauk Jogja'? Mmmm... nama memang tidak perlu literally nyambung, kan? Bisa karena kami memang berasal dari Jogja, bisa juga karena memang pusat hobi kami ini dirintis dari rumah makan mungil kami, Pondok Dahar Lauk Jogja (back to 2011)...
However, pusat hobi kami ini berkarya dalam aneka handicraft
Jogja seperti bambu ulir cendani, vas & meja set gerabah Kasongan, vas kayu minimalis, serta rupa-rupa handicraft yang tak mesti berlabel 'Jogja' semisal bunga rangkai aneka jenis, ranting hias, lukisan bunga, pigura 3D, serta buah & pohon topiary artificial.
Pokoknya Jogja and Florist Enthusiast untuk Anda yang berkediaman di Bekasi dan sekitarnya...

Untuk navigasi cepat ke 'KATALOG UPDATE TERAKHIR' kami, klik di sini...

header gambar laukkita

Hot Items

HOT ITEMS :
* Handicraft Bambu Ulir : Bambu Ulir Cendani Aneka Model
* Handicraft Vas Gerabah : Vas Gerabah Aneka Model
* Handicraft Ranting Hias : Ranting Inul Aneka Model

Kamis, 31 Desember 2015

Curug Jurang Pulosari, Krebet Jogja

Berkunjung kembali ke Desa Wisata Batik Kayu Krebet (Sendangsari, Pajangan, Jogjakarta) pada akhir Desember 2015, - ulasan kami tentang Desa Wisata Krebet bisa dibaca di sini... - kami tak melewatkan kesempatan untuk melongok wisata air terjun Jurang Pulosari yang belakangan hits di media sosial. Foto-foto tempat ini yang di-upload netizens sungguh indah dan menggoda. Apakah curug ini memang sebenarnya seindah fotonya di website? Check it out...
Dari patung Semar icon Desa Krebet, kita terus menuju ke arah selatan hingga keluar dari gapura selatan desa. Di sebelah kanan jalan terdapat papan penunjuk arah, kita belok kanan meninggalkan jalan utama. 
Foto di bawah memperlihatkan papan penunjuk arah ke curug dan gapura selatan Krebet, dilihat dari sisi selatan gapura.
Jika jalan utama sudah diaspal mulus, jalan masuk ke curug ini masih berupa jalan batu yang bagian tengahnya sudah disemen agar nyaman dilalui sepeda motor. Jalan ini tidak lebar, jika 2 mobil berpapasan maka salah satu harus menepi, harus bergantian lewat. Memang jalan ini belum nyaman dilalui mobil... semoga ke depannya hal ini terus diperbaiki.
Sekitar 500m lebih melajukan mobil pelan-pelan, kita tiba di parkir kendaraan yang ternyata telah disediakan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Desa setempat (Dusun Krebet, Kelurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY). Area parkir mobil terletak di sebelah kiri jalan, Pokdarwis curug ini tampaknya menjadikan sebuah rumah-warung di sebelah kanan jalan sebagai base pengelolaan air terjun. 
Seorang mas-mas keluar dari warung, lalu membantu suami memarkir mobil, kemudian mengutip karcis masuk sebesar Rp. 5000 per mobil. Murah memang, berapa orang pun penumpang mobil, harga karcisnya sama saja.
Mas-mas yang super ramah ini menjelaskan singkat tentang arah dan bagaimana menuju lokasi curug, serta sekilas sejarah curug yang ternyata belum terlalu lama dikelola ini. Terakhir ia menyuarakan keprihatinan masyarakat setempat atas rencana dibangunnya perumahan tepat di lokasi parkir mobil. Memang kami perhatikan di ujung area parkir sebuah alat berat tengah bekerja meratakan tanah. Ada benarnya sih keprihatinan ini, karena jika benar manjdai perumahan, maka perumahan ini berdiri tepat di atas lokasi air terjun. Sedikit banyak tentunya limbah perumahan akan berdampak tidak baik bagi kelangsungan dan keasrian lokasi curug yang setelah kami perhatikan memang masih 'ijo royo'royo'. Mas-mas itu menyodorkan sebuah buku berisikan tanda-tangan dan komentar para pengunjung tentang dampak berdirinya perumahan di atas lokasi air terjun. Suami tampaknya cukup jeli membaca situasi dan menuliskan komentar 'tidak setuju' atas rencana pembangunan perumahan tersebut. 
Dari lokasi parkir kendaraan ini kita harus sedikit berolahraga karena lokasi curug ini - sesuai namanya Jurang Pulosari - memang terletak agak jauh di bawah area parkir, alias berada di dasar 'jurang'. Jaraknya sekitar 400-an meter lah, tetapi jalannya menurun cukup curam di beberapa trek. Lintasan ini sepertinya memang lebih cocok untuk pengunjung yang masih tergolong belia.
Lokasi bakal perumahan yang tampaknya kurang disetujui warga, tampak alat berat di kejauhan (kiri); kita harus memutari lokasi bakal perumahan ini dulu sebelum tiba di trek menurun (kanan)

Mulai trek menurun (kiri); Pokdarwis telah membuat tangga batu ke bawah dan pegangan dari kayu dan bambu (pilihlah pegangan yang masih kokoh untuk berpegangan karena di beberapa tempat kami rasakan pegangan ini agak goyah), juga gazebo yang cukup nyaman untuk beristirahat sejenak (kanan)

 Sesekali kami harus berhenti sejenak untuk mengatur langkah saat tiba di trek menurun yang curam, di sini jarak vertikal antar anak tangga ada yang hingga sekitar 50cm (kiri); tampak bendungan pada sungai kecil yang menjadi sumber air terjun, tetapi debit air yang sedikit - meski saat itu sebenarnya sudah masuk musim penghujan - membuat permukaan sungai amat dangkal, hal ini berimbas pada debit air terjun yang juga jauh berkurang dari semestinya (kanan)

 
Air sungai dari sebelah kiri memenuhi beberapa trap kolam di sebelah kanannya, lalu jatuh membentuk air terjun Pulosari di bawahnya (kiri); penampilan curug Pulosari yang masih tampak indah dengan balutan vegetasi hijau di sekitarnya meski debit air terjunnya hanya sedikit. Tampak beberapa anak mandi-mandi di telaga kecil berair kehijauan ini. Jika Anda perhatikan tumpukan batu di sebelah kiri bawah foto, pada kondisi debit air normal seharusnya tumpukan batu ini hanya terlihat permukaan atasnya saja. Dari sini bisa disimpulkan bahwa muka air telaga ini telah menyusut sekitar 50cm. Hmmm, curug ini memang lebih tepat dikunjungi pada saat persediaan air cukup melimpah... (kanan)

Telaga kecil di bawah air terjun setinggi sekitar 5m ini tampaknya memang sengaja dibendung pula, sama seperti aliran air di atasnya. Pada foto di samping kanan tampak bendung batu pembentuk telaga, dan aliran air limpasannya ke arah kanan. Pada kondisi normal, batu-batu bulat besar berlumut itu akan terendam air. Namun karena saat itu muka air sungai sedang jauh menyusut, daerah di sebelah kanan bendung batu itu mengering. Kita bisa berjalan-jalan dengan bebas di sini.
Terdapat sebuah warung tradisional penyedia pop mie dan minuman di sebelah telaga. Tak banyak pengunjung yang berada di curug ketika itu. Mungkin karena hari itu adalah hari Jum'at. Pada akhir pekan tentunya akan lebih banyak pengunjung yang datang.
Setelah puas melihat-lihat dan menikmati pemandangan yang sekali lagi tetap mempesona meski bukan pada kondisi maksimal curug, kami bergerak kembali ke atas. Trek menanjak ini ternyata sedikit lebih tricky untuk ditaklukkan dibandingkan saat kami turun. Berhati-hati dan menanjak perlahan saja di sini. Tetap aman kok jika kita tidak terburu-buru.
 Karena trek menanjak ini memang sedikit lebih melelahkan ketimbang saat turun, kami sempat mengaso sejenak di Gazebo Nakula. Pemandangan dari sini cukup OK untuk berfoto ria. Dinamakan Gazebo Nakula karena ternyata gazebo ini berdiri pada urutan ke-4, terhitung dari dibangunnya gazebo pertama di lokasi wisata alam ini (berarti sebelumnya telah ada gazebo Puntadewa, Werkudara, dan Arjuna). Gazebo kayu yang kokoh dengan ukuran 2,5*2m ini ternyata dibangun secara swadaya oleh warga Dusun Krebet RT 02 pada bulan Mei 2015, lho. Wah, kiprah Pokdarwis Krebet ini memang layak ditiru...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar