Handicraft Center kok judulnya 'Pondok Dahar Lauk Jogja'? Mmmm... nama memang tidak perlu literally nyambung, kan? Bisa karena kami memang berasal dari Jogja, bisa juga karena memang pusat hobi kami ini dirintis dari rumah makan mungil kami, Pondok Dahar Lauk Jogja (back to 2011)...
However, pusat hobi kami ini berkarya dalam aneka handicraft
Jogja seperti bambu ulir cendani, vas & meja set gerabah Kasongan, vas kayu minimalis, serta rupa-rupa handicraft yang tak mesti berlabel 'Jogja' semisal bunga rangkai aneka jenis, ranting hias, lukisan bunga, pigura 3D, serta buah & pohon topiary artificial.
Pokoknya Jogja and Florist Enthusiast untuk Anda yang berkediaman di Bekasi dan sekitarnya...

Untuk navigasi cepat ke 'KATALOG UPDATE TERAKHIR' kami, klik di sini...

header gambar laukkita

Hot Items

HOT ITEMS :
* Handicraft Bambu Ulir : Bambu Ulir Cendani Aneka Model
* Handicraft Vas Gerabah : Vas Gerabah Aneka Model
* Handicraft Ranting Hias : Ranting Inul Aneka Model

Selasa, 17 Januari 2017

Jalan-Jalan di Pangandaran (Hari Ketiga) : Green Canyon (Cukang Taneuh)

Berikut lanjutan pengalaman kami menjelajah kawasan Pangandaran di Green Canyon yang sengaja kami pisahkan menjadi satu artikel tersendiri karena materinya cukup banyak. Check it out...

Aneka item bambu ulir, detil klik di sini...

Hari Ketiga (Ahad)
Pukul 8 pagi lagi-lagi Kang Dadi sudah tiba di lobby Hotel Bumi Nusantara. Kami telah packing dan sarapan. Langsung saja kami check out dan segera berkendara sekitar 30km ke arah barat menuju Green Canyon ternama. Sebenarnya alasan utama kami datang ke Pangandaran tidak lain tidak bukan ya untuk melihat Green Canyon ini. Tapi spot-spot lain tentunya tak kalah menarik 😃.


Dari kawasan Pantai Barat Pangandaran kami mengambil rute Jl. Pamugaran menyusuri pesisir ke arah barat, lalu belok kanan di bundaran menuju ke Jl. Raya Cijulang dekat pertigaan Pasar Cikembulan. Dari pertigaan ini belok kiri, terus ke barat melewati pertigaan ke Pantai Batu Hiu, lalu masih lanjut menuju arah Parigi (arah Bandara Nusawiru), melewati Masjid Agung Parigi dan Kantor Bupati Pangandaran. Dari sini gerbang masuk kawasan Dermaga Perahu Green Canyon, tepatnya di Kampung Ciseureuh, Dusun Karangpaci, Desa Kertayasa, Kec. Cijulang ini sudah dekat (foto kiri atas). Area parkir kendaraan berada di sebelah kanan (utara) jalan, sementara Sungai Cijulang di mana dermaga perahu berada di sisi selatan jalan.  Tepat setelah memasuki gerbang kita akan menemukan Kantor Green Canyon di mana loket tiket perahu berada (foto kanan atas).
Dermaga di Ciseureuh ini menurut informasi yang kami terima sudah dibangun pada tahun 1990-an, waktu itu masih pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Dermaga ini dioperasikan oleh Kompepar (Kelompok Penggerak Pariwisata) dan Dinas Pariwisata (ketika itu Kabupaten Ciamis).

Kami nilai informasi harga tiket di sini sudah baik dan transparan. Pengunjung bisa memilih paket sesuai kebutuhan. Kapasitas tiap perahu wisata adalah 5 penumpang (di luar pengemudi perahu). Setelah membeli tiket kita bisa segera menuju jalur antrian yang tampak sudah nyaman dengan atap polikarbonat untuk menaiki perahu (foto kanan atas).
Dermaga perahu wisata Green Canyon di Ciseureuh

Saat kami tiba di sana belum tampak antrian pengunjung, begitu pula perahu wisata tampak siap berjajar menunggu penumpang. Menurut Kang Dadi bisa jadi hal itu karena kami pergi ke Green Canyon pada hari Ahad, ketika sebagian besar pelancong justru sedang bersiap-siap check out dari hotel untuk pulang ke rumah. Hari Sabtu biasanya antrian sangat padat.
Kang Dadi juga menyarankan untuk berangkat ke Green Canyon pagi-pagi agar antrian penumpang perahunya belum panjang. Terdapat kuota jumlah perahu yang diperbolehkan membawa penumpang tiap harinya, karena jika terlalu padat pengunjung pun tentunya membuat tidak nyaman. Perlu diketahui terutama bagi pengunjung yang ingin melakukan body rafting di Green Canyon bahwa lokasi dan kondisi ngarai sungai Cijulang di mana body rafting dan batu payung berada tidak terlalu luas. Lokasi ini tak mampu menampung terlalu banyak pengunjung berbarengan. Setelah mengenakan jaket pelampung, kedua perahu kami pun mulai berlayar ke arah hulu.

Mulai menyusuri sungai Cijulang yang tenang ke arah hulu, tampak jembatan besi dekat SDN 03 Batu Karas
Air sungai Cijulang di sekitar dermaga Ciseureuh ketika itu tampak cukup hijau. Kemarin memang tidak hujan di Pangandaran sehingga kondisi Green Canyon sebenarnya cukup baik. Pada musim penghujan, air sungai biasanya berwarna kecoklatan, lebih keruh, dan arusnya cukup deras. Musim kemarau merupakan saat paling ideal untuk mengunjungi Green Canyon.

Beragam vegetasi sepanjang aliran sungai Cijulang
Pada beberapa tempat vegetasi tumbuh begitu rapatnya membentuk kanopi hijau memayungi sungai

Seekor biawak ukuran cukup besar tertangkap kamera tengah berjemur di atas sebongkah batu besar yang tersiram cahaya matahari (foto kiri atas). Tetesan air membentuk tirai dari langit-langit ngarai (foto kanan atas).

Green Canyon sebenarnya bernama Cukang Taneuh yang berarti jembatan tanah. Konon dahulu jembatan dari tanah ini digunakan oleh penduduk untuk beraktivitas. Jembatan tanah ini terbentuk secara alamiah dari tanah dan cadas, dengan bagian bawah jembatan dihiasi stalaktit dan stalakmit. Kontur jembatan ini jika dilihat dari jauh akan terlihat layaknya mulut gua.
Di tempat itu juga terdapat sebuah air terjun yang disebut pancuran emas oleh penduduk setempat. Memang pada saat tertentu pantulan sinar matahari pada air berwarna kecoklatan pada pancuran tersebut akan terlihat menyilaukan bagaikan emas dari kejauhan. Foto di sebelah kanan bukanlah pancuran emas yang dimaksud, tetapi kurang lebih efek menyilaukannya akan terlihat mirip.
Nama Green Canyon sendiri merupakan pelesetan dari Grand Canyon di Colorado, Amerika Serikat, yang menurut cerita masyarakat pertama kali diberikan oleh turis asing bernama Bill Jhon pada tahun 1990-an (sumber : www.bodyrafting-guhabau.com).
Green Canyon diperkirakan terbentuk akibat tanah yang tererosi aliran sungai Cijulang selama jutaan tahun. Tanah tergerus oleh air, menyisakan struktur batuan cadas berbentuk kurva. Struktur batuan keras itu pada gilirannya ikut terkikis air pula di banyak bagian. Di sana-sini dapat dijumpai stalaktit, stalakmit, dan tiang batu buah endapan mineral dan kapur dalam waktu sangat lama. 

Kami ketika itu menyewa 2 perahu : Kakung, Mamak, Haidar & Abid di perahu 1; sedangkan kami, suami, Dinda & Kang Dadi di perahu 2 (foto kiri bawah). Sekitar 15 menit berperahu melawan arus sungai kami tiba di semacam dermaga penambatan perahu yang disebut Dermaga II. Pada awalnya, cikal bakal Dermaga II dirintis oleh masyarakat setempat dengan membangun fasilitas ruang bilas serta saung persinggahan yang menyediakan makanan-minuman ringan. Namun kemudian dermaga awal ini rusak diterjang banjir. Kemudian oleh Pemerintah Daerah, dermaga ini dibangun kembali dengan lebih luas dan kokoh. Bahkan dengan tambahan mushalla dan pelataran multi fungsi yang amat memadai (foto kanan bawah).

Selepas Dermaga II, medan sungai Cijulang perlahan berubah dari tenang menjadi lebih beriak, tanda bahwa kita mendekati badan sungai berjeram dan berarus lebih kencang seperti pada 2 foto di bawah, termasuk foto pancuran emas yang berada sedikit ke arah hulu Cukang Taneuh (foto kiri bawah). Pengemudi perahu kami berkata bahwa kemarin malam qadarullah turun hujan di bagian hulu sungai, dan air kirimannya baru mencapai Green Canyon saat kami mendekatinya. Ya, walaupun di Pangandarannya tidak hujan, tetapi air kiriman ini membuat arus tampak cukup bergejolak. Konsekuensinya, air sungai menjadi lebih keruh dari kondisi idealnya yang hijau jernih.

Di dalam Cukang Taneuh yang memang berbentuk semacam gua besar, perahu wisata tak dapat meneruskan pelayarannya lebih jauh lagi ke hulu karena banyak batu cadas di daerah ini. Pengunjung yang mengambil paket biasa akan berbalik kembali ke Dermaga Ciseureuh setelah berfoto-foto di sini. Jarak gua besar ini dari Dermaga Ciseureuh adalah sekitar 3km.
Karena kami mengambil paket body rafting, maka kami turun dari perahu (foto kanan) dan menaiki pelataran alami dari batu besar untuk melanjutkan menyusuri sungai ke arah hulu, kecuali Mamak. Mamak diantar oleh perahu ke Dermaga II untuk menunggu kami selesai melakukan body rafting.
Dan... area berbasah-basah pun dimulai! Di sini Kang Dadi mengingatkan kami untuk memastikan jaket pelampung sudah terpasang dengan kuat. Sandal disarankan tidak dipakai, karena ternyata permukaan bebatuan di sini pun tidak tajam, dan ada resiko sandal hanyut 😢. Sandal, baju kering, tas, dll. bisa disimpan saja di dalam perahu. Selain itu HP yang tidak akan digunakan pun disarankan disimpan di perahu agar tidak terendam air. Untuk HP yang akan dibawa turun dari perahu, team body rafting provider yang akan menyertai penumpang sudah membawa tas punggung water proof.
Tampak dari foto di sebelah kanan tersebut bahwa badan sungai di sekitar pelataran dari batu besar ini tak mampu menampung terlalu banyak perahu. Jika Cukang Taneuh ini sedang padat, maka pengunjung harus antri dan bergantian memasukinya. Perahu yang telah menurunkan penumpang harus menunggu di Dermaga II, tidak boleh parkir di dalam ceruk gua Cukang Taneuh.



Body rafting konsepnya sederhana : kita pergi dulu ke arah hulu lalu menghanyutkan diri dengan pelampung ke arah hilir. That's all. Nah, dari pelataran batu besar di dalam Cukang Taneuh, kita maju melawan derasnya arus ke arah hulu dengan bantuan tali harness yang sudah dipasang ke tebing. Namun pada bagian badan sungai yang berarus tidak deras seperti pada foto di sebelah kiri, kita bisa berenang santai ke hulu.
Tampak juga pada latar belakang foto di sebelah kiri batu payung setinggi sekitar 6m, tempat kita bisa terjun bebas. Permukaan batu itu yang melengkung terkikis air memang sekilas tampak seperti payung. Seorang pengunjung tampak berdiri di atas batu payung, siap untuk terjun...

Terus melawan arus, sampailah kita di titik awal body rafting... foto-foto dulu sebelumnya. Ada hal unik ketika kami tanpa sengaja melihat beberapa 'batu' tampak bergerak-gerak. Ternyata setelah dilihat lebih detil, yang bergerak-gerak itu bukanlah batu, melainkan koloni hewan berbuku-buku seperti kepiting berwarna hitam yang berkumpul bertumpuk-tumpuk (jumlahnya ratusan). Sekilas koloni ini tampak seperti batu biasa...
Posisi kelompok beranggota hingga sekitar 10 orang yang melakukan body rafting adalah berbaris layaknya kereta-keretaan. Orang dewasa berada di posisi paling depan dan paling belakang, sementara anak-anak mengikuti di tengah. Orang yang berada paling depan harus memilih rute badan sungai yang diperkirakan paling aman untuk ditempuh, sambil mengarahkan kelompoknya agar tidak menabrak tebing atau bebatuan. Posisi kita layaknya sedang tiduran saja, kaki di depan. Orang di belakangnya memegang jaket pelampung orang di depannya, dan kakinya diposisikan kira-kira di sisi tubuh orang di depannya. Orang paling belakang bertugas memastikan tidak ada anggota kelompoknya yang terlepas/tercecer. Kurang lebih posisi kelompok saat sedang melakukan body rafting adalah seperti foto di kanan atas (foto kami capture dari video sehingga agak blur karena pergerakan kamera dan objek).

Mendekati titik finish body rafting, arus akan membawa kita ke sisi kiri sungai. Arus di bagian ini sudah tenang, kita bisa berenang-renang santai menuju Cukang Taneuh kembali. Tampak profil sebenarnya dari Cukang Taneuh yang dari kejauhan memang mirip gua, dengan hiasan stalaktit dan stalakmit di lengkungan bawahnya... 

Sampai di sini aktivitas di Green Canyon sudah selesai. Kami naik kembali ke perahu feeder di pelataran batu di dalam rongga Cukang Taneuh ke Dermaga II, di mana perahu wisata kami bersandar. Di Dermaga II kita bisa makan-minum kelapa muda sejenak, atau pergi ke toilet. Setelah semua siap, kami kembali naik perahu wisata ke Dermaga Ciseureuh.
Kamar mandi untuk bilas dan mengganti pakaian terdapat di area parkir kendaraan. Jumlah biliknya kami nilai sangat mencukupi. Kondisinya juga bersih. Sekitar pukul 11.30 kami sudah siap untuk pindah ke spot berikutnya : Pantai Batu Hiu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar