Handicraft Center kok judulnya 'Pondok Dahar Lauk Jogja'? Mmmm... nama memang tidak perlu literally nyambung, kan? Bisa karena kami memang berasal dari Jogja, bisa juga karena memang pusat hobi kami ini dirintis dari rumah makan mungil kami, Pondok Dahar Lauk Jogja (back to 2011)...
However, pusat hobi kami ini berkarya dalam aneka handicraft
Jogja seperti bambu ulir cendani, vas & meja set gerabah Kasongan, vas kayu minimalis, serta rupa-rupa handicraft yang tak mesti berlabel 'Jogja' semisal bunga rangkai aneka jenis, ranting hias, lukisan bunga, pigura 3D, serta buah & pohon topiary artificial.
Pokoknya Jogja and Florist Enthusiast untuk Anda yang berkediaman di Bekasi dan sekitarnya...

Untuk navigasi cepat ke 'KATALOG UPDATE TERAKHIR' kami, klik di sini...

header gambar laukkita

Hot Items

HOT ITEMS :
* Handicraft Bambu Ulir : Bambu Ulir Cendani Aneka Model
* Handicraft Vas Gerabah : Vas Gerabah Aneka Model
* Handicraft Ranting Hias : Ranting Inul Aneka Model

Selasa, 17 Januari 2017

Jalan-Jalan di Pangandaran (Hari Pertama & Kedua) : Snorkeling di Pantai Timur

Pantai Pangandaran ternama terletak di pesisir bagian selatan Kabupaten Pangandaran yang ternyata baru dimekarkan pada 25 Oktober 2012 dari Kabupaten Ciamis. Kabupaten Pangandaran sendiri beribukota di Kecamatan Parigi.

Aneka item ranting inul, detil klik di sini...

Kecamatan Pangandaran di mana Pantai Pangandaran berada merupakan salah satu dari 10 kecamatan yang dimiliki kabupaten 'baru' ini.  Pantai Pangandaran sebenarnya hanya berjarak sekitar 65km ke arah selatan dari Kota Banjar (Jalan Raya Jalur Selatan Jawa), namun harus ditempuh dalam waktu 1,5~2 jam. Kita tidak bisa berkendara terlalu cepat di sini mengingat sebagian medan jalan berkelok-kelok dan kita pun harus melewati beberapa kota kecil/pasar tempat aktivitas penduduk seperti Banjarsari dan Padaherang, meski hampir keseluruhan kondisi jalannya mulus.  Ditambah lagi ketika itu semua kendaraan yang menuju Pangandaran dari Banjar harus melewati Jembatan Ciputrapinggan yang putus pada pertengahan Oktober 2016 lalu.
Dalam keadaan normal, Kota Banjar sendiri dapat dicapai dalam waktu sekitar 6 jam dari Jabotabek. Total jendral butuh setidaknya 8 jam dari Jabotabek. But trust me, lamanya perjalanan darat mencapai Pangandaran sangat sepadan dengan pengalaman mengeksplorasi aneka spot menarik di kawasan  berpenduduk ramah dan bersahabat ini.
And this is our story...

Hari Pertama (Jum'at)
Ternyata ada 212 Mart di Pasar Limbangan Garut...
Membaca posting rekan-rekan blogger dari Jabotabek tentang liburan di Pangandaran, rata-rata mereka berangkat pada malam hari dan tiba di sana esok paginya. Awalnya kami juga akan berangkat malam hari seperti pengalaman rekan-rekan tersebut, tetapi alhamdulillah suami bisa mengambil cuti 2 hari sehingga kami memutuskan untuk menginap dulu di Pangandaran sebelum memulai jalan-jalan agar tubuh lebih segar dan siap diajak beraktivitas.
Kami berangkat bertujuh dari Bekasi (plus Kakung dan Mamak Jogja 😄) sekitar pukul 5 pagi menuju Bandung terlebih dahulu ke rumah Kakek dan Nenek Bandung. Sempat sedikit terhambat di pertigaan masuk ke tol Purbaleunyi karena kepadatan truk menyusul ditutup sementaranya tol Purbaleunyi untuk kendaraan golongan II ke atas akibat perbaikan jembatan Cisomang dan qadarullah terjadinya kebakaran kendaraan di exit tol Buah Batu, kami tiba di rumah Kakek-Nenek pukul 8.
Setelah mengobrol ngalor-ngidul di Bandung, kami meneruskan perjalanan ke Pangandaran sekitar pukul 10.30. Waktu shalat Jum'at tiba saat kami melintas di Nagrek, kami pun berhenti di salah satu masjid tepi jalan utama hingga sekitar pukul 13.00. Setelah itu tancap gas lagi menyusuri Jalan Jalur Selatan yang cukup lengang.
Di saung RM Cobek Beti
Sekitar pukul 15.30 ketika kami tiba di RM Cobek Beti (Bu Eti) Tanjungsukur, kawasan selatan Banjar, tepatnya di Jl. Banjar-Pangandaran. Kurang lebih satu jam kami habiskan untuk bersantap ikan goreng Beti yang terkenal dengan masakan Sundanya. Shalat Ashar dapat dilakukan di kedua mushalla yang ada di RM ini. Kemudian kami laju kembali ke arah Pangandaran.
Jembatan Ciputrapinggan yang diperkirakan putus akibat tergerusnya sebagian badan jalan menyusul derasnya curah hujan terletak sekitar 5 km sebelum Bundaran Pangandaran. Saat kami lewat, tampak jembatan Ciputrapinggan yang melintasi salah satu anak sungai Citanduy ini masih patah di tengah. Semua pelintas harus melaju perlahan melintasi 2 jembatan bailey yang dibangun sementara di sisi kiri-kanan jembatan utama yang putus. Kapasitas masing-masing jembatan darurat tertulis 'max 20 ton'. Bus/truk besar pun kami lihat boleh melintas, tapi tidak boleh beriringan alias harus satu-satu. Berbeda dengan mobil kecil (golongan I) yang dapat berjalan beriringan.
 Dek kayu jembatan bailey arah Pangandaran (kiri); tampak jembatan utama yang patah saat kami melintas kembali ke arah Banjar saat pulang pada hari ke-3 (kanan). 

Selepas menyeberangi jembatan, suami tampak memacu mobil lebih kencang untuk mencoba mengejar sunset di Pantai Barat karena sunset petang itu terlihat sangat cantik. Adzan maghrib telah berkumandang, sementara Bundaran Pangandaran seolah tak jua dicapai.
Tak ingin melewatkan momen, kami mencoba mengambil foto sunset dari dalam mobil, meski hasilnya (foto sebelah kanan) tak memuaskan karena pandangan ke ufuk barat terhalang pepohonan, bangunan, kabel listrik, serta lain-lain perintang. Dan akhirnya kami memang telah terlewat oleh sunset indah saat benar-benar tiba di Pantai Barat. Tak apalah, yang penting sudah berusaha, alhamdulillah...
Tiket masuk ke Kawasan Pangandaran tampaknya dihitung per mobil, karena petugas di loket/gerbang masuk tidak menghitung satu persatu penumpang. Tiket ini harus disimpan selama kita berwisatan di kawasan ini agar tak mesti membayar kembali di pintu gerbang kota jika akan masuk lagi ke dalam kota. Cukup tunjukkan saja potongan tiket masuk ini pada petugas, maka kita bisa keluar-masuk kota dengan bebas. So, kumpulan tiket ini jangan sampai hilang, ya...
Kami menerima 4 lembar tiket dengan nominal masing-masing Rp. 25.000, Rp. 2500, Rp. 3000, dan Rp. 1500, total Rp. 32.000 (foto di bawah). Tiket segini terhitung sangat murah untuk ukuran Pantai Pangandaran ternama...
Kami mengarahkan mobil ke Jl. Pamugaran Bulak Laut (Pantai Barat), lalu berbelok ke kiri di pertigaan RM Nanjung menuju Jl. Kidang Pananjung, langsung ke hotel yang sudah di-book online via PegiPegi.com jauh hari sebelumnya.
Selesai menaruh barang-barang ke dalam kamar, mandi/bersih-bersih, dan shalat, kami, suami dan Dinda berjalan-jalan sejenak di seputaran Kidang Pananjung menikmati suasana malam yang cukup cerah ketika itu. Sementara Kakung, Mamak, Haidar, dan Abid memilih beristirahat di kamar setelah menempuh perjalanan seharian. Anak-anak tak lepas dari gadget-nya memanfaatkan free wifi hotel.


Hotel Rose Inn memiliki kamar tipe Family B di lantai 2 dengan rate Rp.450 ribu-an (dengan sarapan) kapasitas 6 orang yang kami pilih saat itu. Hotel budget yang berlokasi dekat Kantor Pos Pangandaran ini kami nilai tergolong baik untuk kelasnya. Kamar Family B memiliki 3 ranjang queen size.
Kondisi AC, TV LCD (hanya siaran lokal), air panas, dan kebersihan kamar/hotel secara keseluruhan menurut kami OK. Staff hotel ramah dan helpfull, check in/out cepat.
Kamar Family B terletak di ujung lorong sehingga tak ada tamu lain yang lewat. Seperti umumnya hotel di Pangandaran, kamar-kamar di Rose Inn memiliki sepasang kursi-meja di bagian serambi, serta jemuran baju basah karena umumnya tamu hotel di sini bermain air di pantai. Hotel menyediakan dispenser air panas publik di lorong serambi. Kamar mandi dilengkapi sachet sabun dan shampo, tetapi tidak tersedia handuk dan sikat gigi. Tidak masalah karena kami selalu membawa perlengkapan mandi saat bepergian bersama keluarga.
Hotel budget ini tentunya tidak memiliki kolam renang. Kami memang tidak memilih hotel dengan kolam renang pada hari pertama karena hanya berniat untuk beristirahat saja.
Faktor minus hotel ini adalah area parkirnya yang sangat minim karena memang luas lahannya terbatas. Kami hitung hanya bisa menampung 7 mobil dengan penataan parkir amat-sangat rapat satu sama lain. 1 mobil tambahan bisa menempati sebagian trotoar jalan di depan hotel (lihat foto di sebelah kiri), tetapi ini sebenarnya sudah bukan area parkir hotel lagi. Sarapan pagi tersedia pukul 7~9 di RM Dapur Bing Bing tepat di sebelah kiri hotel. Menu sarapan yang ada hanya soto dan bubur ayam.
Tidak bisa dibandingkan dengan hotel mewah tentunya. Tetapi untuk sekedar singgah/istirahat malam sebelum beraktivitas di seputaran Pangandaran esok harinya, Hotel Rose Inn sangat-sangat memadai.

Hari Kedua (Sabtu)
Setelah melaksanakan shalat subuh esok paginya, kami dan suami berjalan santai ke arah timur via Jl. Talanca (Pasar Ikan), berusaha memburu sunrise setelah kemarin tertinggal sunset. Berjalan sekitar 150 m melewati pemukiman penduduk dan beberapa ekor rusa Cagar Alam yang pagi itu masih berkeliaran mencari rumput segar di lapangan dekat Pasar Ikan, qadarullah kami dapati langit tertutup awan yang cukup tebal sehingga sunrise terlihat kurang bagus (foto sebelah kanan). Alhamdulillah....
Kawasan Pantai Timur dekat Pasar Ikan mau tak mau memang beraroma amis, meski pun daerah yang lebih jauh dari Pasar Ikan tidak demikian. Kami memang membaca beberapa review pula tentang hal ini. Mungkin ini sebabnya mengapa kawasan Pantai Barat tampak lebih berkembang dalam hal jumlah hotel dan aktivitas wisata. Dari Rose Inn, Pantai Barat berjarak sekitar 200 m. Sedikit lebih jauh dibandingkan dengan ke Pantai Timur.
Ternyata cukup banyak wisatawan yang melewatkan malam di dalam mobil di tepi Pantai Timur. Saat kami tiba di sana, sudah lumayan banyak orang yang berkeliaran di pantai. Pedagang asongan pun sudah berburu rezeki menawarkan penganan ringan dan kopi hangat. Terus berjalan di tepian ke arah utara, beberapa bus pun tampak parkir di seputaran Lapangan Katapang Doyong.
Di tepi Pantai Timur ini terdapat landmark Pangandaran yang terbuat dari pelat baja dengan finishing cat warna-warni (foto di atas). Lokasi ini tentu menjadi spot selfie populer. Sayang seribu sayang landmark ini ternodai banyak grafiti para pengunjung, hadeuh....
Setelah sarapan dan packing, kami pun check out dari hotel. Sekitar pukul 8 pagi, Kang Dadi, staff Planet Pangandaran (0265-631336) yang kami percayakan untuk mengatur aktivitas wisata kami selama 2 hari di sini sudah menjemput di lobby hotel. Kang Dadi memilih tetap mengendarai motornya menunjukkan jalan, sementara kami menguntit dengan mobil ke kawasan Pantai Timur.
Kita bisa memarkir mobil di Pantai Timur dekat dermaga perahu (ketika itu kami parkir di seberang RM Seafood Bu Surman), lalu naik perahu ke arah spot snorkeling di pesisir dangkal tak jauh dari Batu Layar.

 Dermaga kecil tempat pengunjung naik banana boat dan naik perahu untuk melakukan snorkeling (kiri); mempersiapkan peralatan snorkeling di atas perahu... setelah kami perhatikan ternyata pengemudi perahu kami yang tampak sedang duduk di buritan mempersiapkan kamera bawah airnya mirip Bastian Steel, iya nggak sih... (kanan)


Entah karena hari itu masih pagi dan agak mendung sehingga cahaya matahari kurang mampu menembus hingga dasar terumbu karang dangkal, air laut di area snorkeling pagi itu kami nilai tidak jernih (foto di atas). Akibatnya, terumbu karang di spot Pantai Timur itu tak mampu menunjukkan kecantikannya dengan sempurna 😭😭.
Meskipun demikian cukup banyaknya ikan kecil aneka spesies yang berenang-renang di spot tersebut cukup berhasil menyegarkan suasana. Kami sebelumnya sudah membeli roti (cukup roti murah-meriah seharga Rp. 2000-an saja, tidak perlu roti mahal, roti mahal sih untuk kita makan sendiri saja...) untuk menarik ikan-ikan mendekat.
Kami ingatkan kembali untuk tidak berdiri/menginjak terumbu karang tersebut ketika melakukan aktivitas snorkeling walaupun laut di spot ini sangat dangkal sehingga kita bisa berdiri di atas karang.
Patut diketahui bahwa terumbu karang adalah organisme hidup yang berkembang amat-sangat lambat. Mungkin perlu tahunan untuk tumbuh hanya 1 cm. Bayangkan jika kita tak sengaja mematahkan terumbu karang tersebut ketika menginjaknya.... Patahan tersebut akan mati, dan butuh waktu tahunan lagi untuk menumbuhkan terumbu karang seperti semula... sayang sekali, bukan?

Setelah sesi snorkeling selesai dan kami naik kembali ke atas perahu, pengemudi perahu mengajak kami memutar mendekati Batu Layar dan Batu Buaya yang berada tak jauh. Batu Layar memang sekilas terlihat seperti layar kapal yang terkembang, buah mekanisme hempasan ombak yang sekian lama mengikis bongkah batu besar tersebut menjadi berbentuk demikian. Jika lama-kelamaan bagian dasar Batu Layar tersebut kian tipis terkikis, maka batu tersebut akan runtuh (foto sebelah kiri).
Menurut pengemudi perahu kami, dahulu nelayan setempat pada waktu-waktu tertentu gemar menaruh sesaji di pelataran Batu Layar. Mungkin maksudnya untuk keselamatan atau rezeki berlimpah. Kami tentunya berlepas diri dari praktik-praktik seperti ini. Segala urusan tentang keselamatan atau rezeki seharusnya hanya kita minta pada Allah SWT.
Batu Buaya disebut demikian karena berbentuk memanjang seperti tubuh seekor buaya yang sedang berenang di permukaan air (foto sebelah kanan).
Seusai memutari Batu Layar dan Batu Buaya, perahu kami langsung kembali ke dermaga di Pantai Timur. Di sini tersedia aneka permainan air seperti banana boat dan donat/donnut boat seharga Rp. 50.000/orang. Selain itu, kita tentunya bisa bermain air di pesisir yang relatif tenang dekat dermaga. Banyak ikan mirip teri dan kepiting berkeliaran di airnya yang cukup jernih.
Di atas dermaga (arah area parkir) terdapat keran air bersih dan ember publik yang dapat digunakan untuk membilas air laut. Bilik untuk ganti pakaian terdapat pula di area ini. Di sini ada pula warung yang menyediakan kelapa muda segar (Rp. 15.000/butir), pas untuk segera menggantikan cairan tubuh yang tanpa disadari banyak terbuang saat beraktivitas di bawah sinar matahari.


Kami menghabiskan waktu dari pukul 8.30 hingga sekitar pukul 12.30 di area Pantai Timur ini untuk aktivitas snorkeling, bermain air di pesisirnya, bilas-ganti pakaian, dan beristirahat sambil minum kelapa muda. Setelah itu kami langsung menuju hotel di Jl. Pamugaran Bulak Laut untuk check-in.

Hotel Bumi Nusantara menurut Kang Dadi tour guide kami adalah salah satu hotel lama yang masih eksis di kawasan Pantai Barat Pangandaran. Hotel ini dulu terkenal dengan kolam renangnya yang terletak di lantai atas, tepat di atap gedung lobby depan hotel.
Dahulu saat belum ada kios-kios pedagang di tepi pantai, kita bisa melihat laut lepas sembari berenang di kolam renang ini. Namun sekarang karena padatnya kios pedagang dan pepohonan rindang (tampak pepohonan rindang menutupi pandangan ke arah pantai pada foto di sebelah kanan), kita tidak bisa lagi melihat langsung ke pantai.
Masih menurut cerita Kang Dadi, saat Pangandaran diterpa tsunami (17 Juli 2006), sebuah kapal terhempas gelombang hingga ke atas kolam renang Bumi Nusantara. Sayang kami tak menemukan foto pendukung dari website tentang hal ini...

Hotel ini memiliki kamar-kamar dengan penataan ala taman yang rindang dalam beberapa gedung 2 atau 3 lantai terpisah. Area parkir memadai. Sayang desain interior kamar menurut penilaian kami agak nanggung. Tampaknya hotel ini hendak mengusung tema Jawa dengan ornamen serba batik, nuansa kecoklatan, dan furnitur berbahan kayu tradisional. Yang agak mengganggu adalah ornamen gedhek (anyaman bambu) pada partisi, pintu, dan pelapis dinding seperti pada foto serambi/balkon kamar (kiri bawah).
Restoran Bumi Nusantara tempat sarapan dihidangkan cukup luas sehingga mampu menampung banyak tamu (foto kanan atas). Hidangan di sini bervariasi dan menurut kami rasanya pas... maknyus!
TV di dalam kamar belum model LCD/LED. AC kamar agak kurang dingin, tapi masih dalam batas toleransi. Kamar mandi dilengkapi bathtub, namun rasanya sudah perlu renovasi/peremajaan. Air panas OK, tidak masalah.
Ketika itu kami melakukan pemesanan kamar via Booking.com. Berbeda dengan Pegi-Pegi di mana kami melakukan transfer (pembayaran) di muka, via Booking.com kita tidak diminta membayar saat memesan kamar. Waktu itu adalah saat pertama kami menggunakan Booking.com karena qadarullah via PegiPegi sudah fully booked pada tanggal tersebut. Karena baru kali pertama via Booking.com, malam sebelumnya suami sudah datang ke Bumi Nusantara untuk melakukan booking ulang dan membayar, namun oleh staff hotel pada malam itu kami diminta untuk membayar esok harinya sesuai jadwal booking.
Kolam renang di lantai atas ruang lobby
Pada hari kedua saat kami tiba di Bumi Nusantara sekitar pukul 13.30, awalnya staff hotel menolak dengan alasan kamar pada hari itu sudah fully booked. Untungnya setelah dicek lagi, booking ulang suami kemarin malam jelas tertera dan kami tetap bisa check in. Staff hotel tersebut mengatakan bahwa sebelum kami sudah banyak tamu lain yang juga membawa lembar pemesanan dari Booking.com namun terpaksa ditolak karena actual kamar memang sudah habis, dan karena memang sifat pesanan via Booking.com adalah belum dibayar, maka diberlakukan sistem siapa cepat dia dapat. Waduh, susah juga kalau begini sistemnya... Ke depannya kami akan ekstra hati-hati jika terpaksa melakukan pemesanan hotel tanpa pembayaran di muka seperti ini.
Lalu bagaimana jika qadarullah kita termasuk tamu yang terpaksa ditolak karena fully booked? Kami sarankan Anda segera datang ke Uni Beach Hotel (0265-639929) yang juga berlokasi di Jl. Pamugaran Bulak Laut (tepi Pantai Barat). Hotel besar ini memiliki sangat buanyak kamar yang sepertinya tidak akan habis dipesan pada high season sekali pun.

Setelah shalat dan beristirahat sejenak di kamar, kami lanjut menjajal kolam renang Bumi Nusantara. Sekitar satu jam di sini, kami menyeberang ke pantai, lanjut lagi bermain air di pesisirnya hingga sekitar pukul 17.30. Batas waktu bermain air di Pangandaran sebenarnya pukul 17.00 karena biasanya ombak makin kencang menjelang maghrib. Mulai pukul 17 lewat petugas jaga pantai akan mulai menyisir pantai memperingatkan pengunjung untuk menyudahi aktivitas mereka di pantai. Dasar saja anak-anak tidak mau berhenti, jadi lewat hampir setengah jam...


Sunset tidak terlihat cantik sore itu sehingga kami memutuskan segera pulang ke hotel saja, tidak menunggu mentari benar-benar terbenam. Di hotel kita bisa segera menuju ke tempat bilas di dekat kolam renang atas untuk bersih-bersih dari pasir pantai yang terbawa. Setelah itu anak-anak malah nyebur lagi ke kolam sebentar. Tanggung sepertinya, karena toh baju renangnya juga sudah basah sekalian. Tidak heran di kolam renang hotel-hotel Pangandaran hampir selalu bisa ditemukan sedikit pasir pantai di dasarnya.
Di Pantai Barat bisa kita temukan banyak penyewaan papan selancar kecil dari busa seperti yang anak-anak kami pakai pada foto-foto di atas. Tarif sewanya murah meriah, hanya Rp. 10.000 sepuasnya.
Kami perhatikan juga ada beberapa tukang sewa kuda. Anak-anak biasanya juga senang menaiki kuda berkeliling pantai. Tapi kami tidak tahu tarifnya berapa.
Selain itu pastinya terdapat tukang sewa perahu wisata. Kita bisa menyewa perahu untuk sekedar memutari garis pantai, atau bahkan menuju Pantai Pasir Putih di sisi barat Cagar Alam. Pantai Pasir Putih ini kami nilai adalah spot permainan air terbaik di Pangandaran dengan gelombangnya yang lebih tenang dibanding Pantai Barat atau Timur, dan pasirnya yang terlihat putih dan cantik. Berbeda dengan pasir di Pantai Timur atau Barat yang lebih kecoklatan gelap. Namun tekstur pasir berwarna lebih gelap di Pantai Timur dan Barat ini lebih halus dan nyaman dibanding tekstur Pasir Putih yang berbulir lebih kasar, dengan sisa pecahan cangkang kerang di sana-sini.

Di lepas pantai dekat Cagar Alam sisi barat kita bisa melihat bangkai kapal pencuri ikan FV Viking berbendera Nigeria yang ditangkap salah satu kapal perang Koarmabar, KRI Sultan Thaha Saifudin-376 pada 25 Feb 2016 lalu. FV Viking merupakan salah satu kapal pencuri ikan terbesar dan terpenting sejak pemerintah RI melancarkan penenggelaman pada lebih dari 100 kapal pencuri ikan sejak 2014.
FV Viking dari informasi interpol cukup licin menghilangkan jejak dengan cara 13 kali berganti nama, 12 kali berganti bendera, dan 8 kali berganti call sign. Kapal ini merupakan incaran interpol berdasarkan permintaan Norwegia menyusul kasinya berburu ikan tootfish Antartika dan Patagonia yang langka.
Untuk memastikan bahwa FV Viking yang ditangkap di Indonesia benar merupakan kapal yang selama ini diburu, interpol Norwegia dan Afrika Selatan sampai-sampai datang ke Indonesia untuk mengkonfirmasi (sumber : www.bbc.com/indonesia).
Kini kapal pencuri ikan ini kandas di perairan Pangandaran. Dalam waktu beberapa tahun ke depan kapal ini bisa menjadi lokasi tumbuhnya terumbu karang. Di atas kapal ini ditempelkan spanduk larangan naik ke atas kapal, karena pasti ada saja yang suka ber-selfie di sini... Tidak usah selfie di sini lah karena berbahaya. Cukup melihatnya sambil naik perahu wisata di seputaran Pantai Barat ini.

Berikutnya : aktivitas di hari ketiga (Green Canyon) bisa klik di sini...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar